SATUDATA.co.id | Palopo — Pemerintah Kecamatan Wara Barat bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), tokoh agama, tokoh masyarakat, serta perwakilan warga menggelar rapat koordinasi untuk mencari solusi penyelesaian konflik yang kembali terjadi antara kelompok pemuda Kelurahan Lebang dan Lappo.
Rapat yang berlangsung di Kantor Camat Wara Barat, Jalan Andi Kaddiraja, Kelurahan Tomarundung, Kota Palopo, Jumat (5/6/2026), dipimpin langsung oleh Camat Wara Barat, Adria Sigele.
Pertemuan tersebut dihadiri Kasubsektor Wara Barat IPTU Yumrang, Kasubbag Kementerian Agama Kota Palopo H. Mikael, Ketua Forum Kerukunan Gereja (FKG) Kota Palopo Yelfian Rumande, Babinsa Kelurahan Lebang PELTU Riadi, para tokoh agama, tokoh masyarakat, serta Ketua RT dan RW Kelurahan Lebang.
Camat Wara Barat, Adria Sigele, mengatakan rapat digelar sebagai langkah bersama untuk menghentikan konflik yang berulang serta menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) tetap kondusif.
Kasubsektor Wara Barat IPTU Yumrang menegaskan penyelesaian persoalan tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, bukan hanya aparat keamanan.
“Kita sepakat untuk bersama-sama mengambil peran dalam menyelesaikan permasalahan ini. Sebagian besar masyarakat Kelurahan Lebang menginginkan konflik segera berakhir, namun masih ada oknum tertentu yang belum mendukung upaya penyelesaian,” ujar IPTU Yumrang.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga menjadi kunci utama untuk menciptakan perdamaian yang berkelanjutan.
Sementara itu, Kasubbag Kementerian Agama Kota Palopo, H. Mikael, menyampaikan bahwa pihaknya bersama Forum Kerukunan Gereja terus melakukan langkah-langkah persuasif guna meredam berbagai informasi yang berpotensi memperkeruh situasi.
“Kami berharap seluruh masyarakat dapat menjaga kondusivitas wilayah. Pada dasarnya kita semua adalah saudara dan memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga kedamaian,” katanya.
Ketua Forum Kerukunan Gereja Kota Palopo, Yelfian Rumande, menegaskan konflik yang terjadi tidak berkaitan dengan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
Permasalahan yang terjadi antara pemuda Lebang dan pemuda Lappo tidak ada kaitannya dengan SARA. Ini murni persoalan kenakalan remaja yang harus diselesaikan melalui dialog dan pendekatan kekeluargaan,” tegas Yelfian.
Ia mengingatkan bahwa konflik yang berlangsung berkepanjangan berpotensi menimbulkan dampak sosial yang luas, termasuk menurunnya kepercayaan masyarakat dan terganggunya aktivitas ekonomi.
Karena itu, seluruh pihak diminta mengedepankan komunikasi, toleransi, dan semangat persaudaraan demi terciptanya suasana yang aman dan harmonis di Kota Palopo.
Hal senada disampaikan Babinsa Kelurahan Lebang, PELTU Riadi. Ia menegaskan isu agama yang berkembang di media sosial tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan.
“Permasalahan yang viral saat ini bukan persoalan agama, melainkan kenakalan remaja. Karena itu, peran RT, RW, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan orang tua sangat penting untuk mencegah konflik serupa terulang kembali,” jelasnya.
Dalam rapat tersebut terungkap bahwa konflik antar kelompok pemuda di wilayah tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun. Karena itu, diperlukan komitmen bersama seluruh elemen masyarakat untuk mengakhiri konflik dan mencegah munculnya narasi yang dapat memperkeruh keadaan.
Para peserta rapat sepakat mendorong upaya perdamaian antara warga Lebang dan Lappo melalui pendekatan kekeluargaan, saling memaafkan, serta memperkuat peran orang tua dalam melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap anak-anak mereka.
Pemerintah Kecamatan Wara Barat berharap langkah dialog yang dilakukan dapat menjadi titik awal penyelesaian konflik secara permanen demi menjaga keamanan, persatuan, dan keharmonisan masyarakat Kota Palopo.
















