SATUDATA.co.id | Palopo – Sampah di dalam blok hunian Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Palopo kini tidak hanya dipandang sebagai persoalan kebersihan.
Melalui Aksi Perubahan GEMA LESTARI (Gerakan Ekonomi Masyarakat Adaptif – Lapas Edukasi Skill Terampil Asuh Religius Integritas), sampah justru dijadikan instrumen untuk membentuk kedisiplinan, keterampilan, mental dan karakter Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Program tersebut digagas oleh Hartono selaku Kasubsi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan Lapas Kelas IIA Palopo, dalam rangka Aksi Perubahan PKP Angkatan IV Tahun 2026.
Pelaksanaan program mendapat arahan dan dukungan dari Mentor Kepala Lapas Kelas IIA Palopo Jose Quelo, serta bimbingan Kasi Binadik M. Al Baqir, dan Coach Widyaiswara PPSDM Regional Makassar Muhammad Irsyad Sayuti,
Hartono mengatakan, persoalan utama yang hendak dibenahi melalui GEMA LESTARI bukan sekadar keberadaan sampah, melainkan perilaku dan kesadaran WBP dalam menjaga kebersihan serta menjalankan disiplin sehari-hari.
“Kita tidak sedang membersihkan sampah, kita sedang membentuk watak,” tegas Hartono, Senin 5 Oktober 2026.
Sebelum program tersebut diterapkan, pengelolaan sampah di blok hunian masih menghadapi sejumlah persoalan. Sampah organik dan anorganik kerap tercampur sehingga berdampak terhadap kebersihan dan higienitas lingkungan hunian.
Selain itu, pembinaan kebersihan belum sepenuhnya terintegrasi dengan pembinaan kepribadian, nilai kerohanian, moral dan religius.
Persoalan lainnya berkaitan dengan pengawalan sampah. Petugas harus mengawal WBP hingga sekitar dua kilometer menuju area pembuangan di luar kawasan steril Lapas. Kondisi tersebut dinilai kurang efisien dari sisi penggunaan sumber daya manusia sekaligus berpotensi menimbulkan risiko keamanan.
WBP tidak lagi ditempatkan hanya sebagai objek pembinaan, tetapi dilibatkan sebagai subjek sekaligus pelaksana perubahan melalui pembentukan Tim Santri GEMA LESTARI.
Setiap WBP yang tergabung dalam tim tersebut memiliki tanggung jawab menjaga kebersihan kamar hunian, memilah sampah dari sumbernya serta menjalankan aktivitas sesuai standar yang telah ditetapkan.
Untuk memastikan perubahan perilaku berjalan konsisten, Lapas menggunakan Buku Kendali atau Kartu Kontrol Aktivitas Harian Kamar.
Instrumen tersebut digunakan untuk mencatat dan mengukur kepatuhan WBP terhadap aktivitas kebersihan dan kedisiplinan sehari-hari.
Catatan dalam Buku Kendali nantinya menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam Sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) terkait proses pengurusan hak-hak WBP sesuai ketentuan yang berlaku.
Dengan pola tersebut, kebersihan tidak lagi sekadar kewajiban karena adanya pengawasan petugas, tetapi diarahkan menjadi kebiasaan dan bagian dari disiplin hidup.
Untuk memperkuat pembentukan karakter, GEMA LESTARI juga dilengkapi dengan Mars Disiplin Bersih serta poster edukasi dan sosialisasi nilai moral yang ditempatkan di mading blok maupun sejumlah area strategis hunian.
Apel kamar juga diarahkan menjadi sarana penanaman nilai etika, kedisiplinan dan karakter bersih yang terintegrasi dengan pembinaan kepribadian.
Program GEMA LESTARI tidak berhenti pada aspek kedisiplinan. Sampah yang telah dipilah juga diarahkan menjadi sumber keterampilan dan nilai ekonomi bagi WBP.
Untuk sampah organik, pengolahannya diarahkan menjadi pakan larva maggot yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai pakan ternak ayam di Lapas serta pupuk kompos untuk mendukung kegiatan pertanian Lapas.
Pelatihan teknis pengolahan sampah tersebut didampingi LSM Wanua Lestari dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Palopo.
Sementara sampah anorganik, khususnya plastik, diarahkan untuk dikembangkan melalui teknologi mesin pirolisis dalam rencana kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Jika pengembangan tersebut terealisasi, hasil pengolahan sampah anorganik akan diarahkan untuk dikomersialkan melalui Koperasi GEMA LESTARI Lapas Palopo, sehingga berpotensi memberikan nilai ekonomi berupa Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) serta mendukung premi kerja WBP sesuai ketentuan.
Salah satu perubahan yang ditargetkan melalui program ini adalah penghentian sistem pengawalan manual WBP untuk membawa sampah keluar area Lapas sejauh sekitar dua kilometer.
Pengolahan sampah yang dilokalisasi di dalam kawasan Lapas dinilai dapat meningkatkan efisiensi penggunaan personel sekaligus mengurangi potensi risiko keamanan yang muncul ketika WBP harus keluar dari area steril.
Di sisi lain, WBP juga memperoleh pengalaman dan keterampilan yang dapat menjadi bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.
Aspek lingkungan dan keterampilan dalam GEMA LESTARI juga dipadukan dengan pembinaan kepribadian dan kerohanian.
Lapas Kelas IIA Palopo menjalin Nota Kesepahaman dengan Kementerian Agama Kota Palopo untuk mendukung pembinaan kerohanian Islam serta pembinaan bagi WBP beragama Kristen.
Melalui pendekatan tersebut, Tim Santri GEMA LESTARI diarahkan menjalankan aktivitas kebersihan dan kedisiplinan dengan berlandaskan nilai religius dan integritas.
Targetnya, WBP menjaga kebersihan bukan semata-mata karena takut mendapatkan sanksi, tetapi karena tumbuhnya kesadaran, tanggung jawab dan nilai moral dalam diri masing-masing.
Program ini menjadi bagian dari konsep Green Prison, yakni menciptakan lingkungan Lapas yang bersih dan asri sekaligus menjadikan kegiatan tersebut sebagai media pembinaan.
GEMA LESTARI mengintegrasikan aspek lingkungan, pembentukan karakter,keterampilan, pembinaan religius dan pemanfaatan data perilaku WBP dalam satu sistem pembinaan.
Data pendidikan, sertifikasi, pengalaman serta riwayat perilaku WBP diarahkan menjadi bagian dari sistem pembinaan yang lebih terukur dan berbasis data.
Kepala Lapas Kelas IIA Palopo Jose Quelo selaku mentor memberikan dukungan terhadap pengembangan program tersebut, bersama Kasi Binadik M. Al Baqir dalam proses pembinaan dan penguatan implementasi program.
Lapas Kelas IIA Palopo menargetkan GEMA LESTARI tidak berhenti sebagai aksi perubahan, tetapi dapat terinstitusionalisasi dalam Rencana Kerja Tahunan (RKT) dan berkembang menjadi budaya baru dalam pelaksanaan pembinaan pemasyarakatan.
Dengan demikian, sampah yang sebelumnya identik dengan persoalan kebersihan di dalam blok hunian kini diarahkan menjadi media pembelajaran.
Lingkungan dibersihkan, keterampilan ditingkatkan, karakter dibentuk, dan WBP dipersiapkan agar memiliki bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.
















